Minggu, 19 Juni 2011

Explore Sawarna - Part 5 - Pantai Lagoon Pari

Pantai Lagoon Pari - Desa Sawarna Kec. Bayah Kab. Lebak - Banten

Setelah puas mengunjungi tempat bertapa Ki Buyut Manguntapa, gurunya Restu Singgih dan Jail Singgih dalam serial Radio Nini Pelet bernama Goa Lalay (ha ha ha... openingnya ngaco’ banget dah..!!, ude jelas cerita Nini Pelet di daerah Cirebon, kita kan posisi di Banten, tepatnya Desa Sawarna Kecamatan Bayah kabupaten Lebak – Propinsi Banten?!, *jangan percaya deh sama yang nulis cerita ini, suka ngoceh ngga jelas dia!! Ha ha ha ). Kami pun berbalik arah menuju jalur yang tadi di pematang sawah nan hijau dan asri, nggak lupa kami agak maksa minta kenang-kenangan untuk berfoto ria di depan mulut goa penuh misteri karena nggak ada cerita dan legenda yang sah yang disampaikan oleh guide yang kami bayar (mbaah..., mohon ijin cucunya mau narsis disini... wak wak wak...*nggak pake gituan kalee..!!.sebelum ninggalin kan kita sudah bayar "karcis ilegal" sebesar Rp.2.000,-/orang buat penjaga gua berbaju kuning berusia sekitar 40 tahunan sama ngasih angpao buat bocah yang ngikutin masuk goa tadi, jadi segala resiko ditanggung oleh karcis dan bocah itu wekekekkkkk.. **lari dari masalah neeh..., dasar anak-anak jalanan pake aturan se'enak perut!!.lekekekekekek..! ***ketawa ala Popeye mode ON). 

Sebelum melewati pematang sawah, aku sempat melihat kiri kanan di jalan kebun yang aku lewati, ternyata disitu terdapat beberapa makam tua dengan keramik warna biru yang sudah lusuh tak terawat, akupun sempat mengirimkan do’a untuk kedua isi makam itu (mudah-mudahan isinya jasad manusia, bukan "sun go ku" yang kalah dan mati melawan musuhnya bernama "pikolo", soalnya percuma saja gue kirim do'a taunya dia lagi asik latihan beladiri meperdalam ilmu melewati jembatan tanpa tepi, hwa hwa hwa..), mudah-mudahan do’aku nyampe di alam sana dan almarhum bisa tenang (kalo yang ini ngga boleh sambil becanda, ngeri di datengin soalnya xxxxx *ekspresi ketawa tanpa suara, hurufnya consonan semua), secara aku kan anak yang teraniaya dan jauh dari orang tua serta kurang kasih sayang dari sesama..., minimal do’aku mustajab dan diterima olehNya he he he (*penyakit baru datang bernama over confident), anak-anak yang lain sudah sampai di pematang sawah sementara aku masih sibuk komat-kamit mirip harry potter baca mantra, tapi yang ini nggak pake tongkat, pake’nya ”senjata” andalan, yaitu KAMERA ha ha ha.... ude gitu PINJEM pula sama si Lulu.... nggak modal banget sech..!! gk gk gk... 

Anak-anak jalanan yang kurang kasih sayang dari orang tua, 
karena merasa senasib, jadi deeh... kelompok Bolang ini... (Bocah Ilang he he he...)

Untuk terakhir kalinya aku ambil gambar dengan tema ”kaki-kaki sang petualang” yang berjalan diatas pematang sawah, secara kali ini mereka berbaris rapih banget kayak bebek yang maen di sawah sambil dijagain sama tuan nya, menggugah insting ku untuk mengambil fenomena langka sepanjang sejarah ini, niatku sih mau candid..., nggak tahunya semua pada nengok dimulai dari barisan paling belakang diikuti oleh yang lain dan agaknya virus narsis masih menempel kuat di dalam jiwa raga mereka, sontak semua pada beraksi pasang gaya, mungkin dibenak mereka pematang sawah itu telah berubah menjadi catwalk yang indah elegant dan hamparan sawah berubah menjadi penonton dengan sorak sorai nya, jadilah lengkap visualisasi mereka menjadi seperti setting peragaan busana rancangan Ivan Gunawan dan Oscar Lawalatta yang mana rancangannya kebanyakan bernuansa cowok metroseksual ala ibukota, visualisasi bertambah lengkap  dengan fotografer yang ganteng dan sekaliber gue (ha ha ha... kambuh lagi deh penyakitnya..., penyakit baru memang cepet banget ekspansinya, mungkin jendralnya si virus masih punya banyak stock prajurit buat memprluas daerah jajahannya kali yaa... Dan parahnya gue jadi jajahan si jendral virus yang bisu itu wkwkwkwk...). Dengan agak ”diperkosa” akupun mengambil gambar untuk mereka, si sahabat-sahabat baruku yang kompak dan selalu terkenang sepanjang zaman (dari zaman batu megalithikum sampe zaman almasih turun ke dunia kelak ha ha ha), dan dengan sendirinya keikhlasan mengalir untuk mereka si anak jalanan yang menarik simpatiku itu. 
Setelah diambil satu dan dua kali jepretan, mereka kembali cuek sama gue dan berjalan kembali (kayak anak bayi nangis trus dikasih mainan he he he he), saat itulah aku mengambil kesempatan ”langka” itu yang aku rasa adalah saat yang tepat karena mereka bergaya secara alami dimana dalam dunia fotografi dikenal dengan istilah ”Human interest”, da...aan... ”jepret”, ”jepret”, berhasill!! Batinku seolah disiram oleh air embun yang sejuk karena ”hasrat positif” ku terpenuhi, ternyata keikhlasan itu dapat berbuah kebahagiaan, mungkin itu kata-kata yang bisa mewakili perasaanku saat itu. Kami melanjutkan perjalanan mengejar sunset di Tanjung Layar yang jaraknya kurang lebih 3 km dari pematang sawah yang sempat dijadikan catwalk peragaan busana karya perancang "makhluk setengah mateng" oleh rombongan kami kecuali aku si tukang candid ha ha ha. ..
Medan yang kami tempuh sangat terjal dan naik turun tebing berkarang setelah sebelumnya menyeberang sungai yang airnya deras dengan ketinggian air sebatas leher (leher katak! wkwkwkwkwk *repost, jadi agak garing deh ketawanya). Tebing terjal dan jalan berliku kami lalui, walaupun betis kami komplen karna telah kami "perkosa" harus melewati medan yang 'aneh' (untungnya si betis nggak komplen via e-mail atau masuk ke kolom opini nya koran kompas, bisa berabe tu komplenan di baca orang2 sedunia termasuk si udin he he he *ekspresi reply fikiran ke masa lalu, pengalaman di komplen sama klien via email, trus di tegur sama bos...xixixi).


Menyeberangi sungai dengan ketinggian air mencapai leher.
(leher katak!! wkwkwkwk)

Setelah kami cuekin komplenan si betis kurang lebih sejauh 1 km, kami mencium aroma pantai dan mendengar sayup-sayup suara ombak bersahutan (kuat juga instink anak jalanan ini yaah...?? hmmh), suara itu semakin jelas terdengar seiring langkah kami berjalan. Akhirnya kami sampai juga di pantai Lagoon Pari yang mirip pantai Nusa Dua-Bali, bentuk ombaknnya, pemandangan karangnya, dan pasirnya, hanya bedanya sepi aja dari pengunjung. Nampak beberapa bangunan mirip saung berjejer menghadap ke pantai,  kami pun menghampirinya, ternyata itu rumah pembuatan gula aren sekaligus rumah tinggal penduduk desa sawarna yang kebanyakan petani, peternak, dan memelihara tambak udang.
 

Mirip Nusa Dua - Bali

Kami pun menyapa salah satu penghuni rumah yang sedang memproduksi gula aren, cukup ramah dan friendly banget tu bapa-bapa pembuat gula. Tiba-tiba ide muncul untuk mengabadikan proses pembuatan gula aren khas Sawarna, setelah sedikit interview dengan si Bapak pembuat gula berbaju kuning (perasaan di Sawarna bapak-bapaknya doyan pake baju kuning yaah?! *reply kisah penunggu goa Lalay yang menukar kupon kuning bertulis angka Rp.2000,- ), kamipun minta izin untuk bergaya bak seorang pembuat gula aren (kayaknya si abah dewh yang paling cocok hua hua hua *expresi ngejigong dikit nunjukin gigi tonggos nya, bukan berarti menghina ya bah...tapi sueer, abah sangat akrab dan familiar dimata penduduk lokal).
Pinggiran pantai Lagoon Pari (Mirip Pantai Kuta era 80-an)

Sejenak kami melepas penat menanggapi komplenan si betis yang dari tadi teriak-teriak minta diperhatikan, yang paling kenceng teriaknya adalah betis si Lulu, apalagi betis nya si cantik Tata, selain teriak-teriak pengen istirahat bersamaan dengan teriakan betis nya Lulu membentuk paduan suara ber nada delapan oktav, betis nya tata juga memanggil-manggil  "Imron" ku untuk menyuruh mata ini memperhatikan dengan seksama dan seteliti mungkin, apakah ada cacat atau enggak, dan hasilnya adalah seperti lagu band terkenal "Andra And The Backbone" berjudul "sempurna...". (Wakakkakak, akhirnya ada kejujuran di balik cerita mirip novel ini). 

Betis-betis yang malang, komplennya dicuekin sama anak-anak,
Dasar anak-anak jalanan... hufth!!

Sementara di skip dulu cerita betis indahnya anak petualang, soalnya ada kisah seru lagi mengenai perebutan dan tarik-tarikan hordeng kamar gue oleh dua makhluk aneh ber merk "Syarif" dan "Gugum" gara-gara betis yang ditaro sembarangan diatas springbed kamar gue (nanti dikasih judul tersendiri, biar bahasnya bisa tuntas).

Sementara sebagian foto-foto dan yang lainnya masih sibuk interview dengan narasumber (si bapak baju KUNING tadi), gue meyempatkan diri sholat asar di saung dengan mengambil air wudlu menggunakan air laut selatan bagian barat itu (woooii, ijin dulu sama penguasa laut Nyi Roro Kidul!! Kualat loe!!, *perasaan batas kekuasaan Nyi Roro Kidul cuma sampai pelabuhan ratu doang deeh..., ini kan wilayah Banten, jadi penguasanya bukan Ratu Roro Kidul, tapi Ratu Atut Chaoshiyah, **koq kalian jadi berdebat gini sich!! Kasian tuh pembaca nungguin mao nerusin baca kisah Sawarna!, *tau nich!, maen potong ajah orang lagi ambil air wudlu juga loe! Kacau deh kisahnya kepotong-potong).

Okey dichangcut....! Ups! Dilanjut...
Sementara gue "meditasi" untuk ngasih laporan sama yang bikin laut (bukan penguasa laut ya..., cateet!!), teman-teman petualangku pada mabok dengan virus "narso" nya (sekarang narsis ganti nama jadi narso yah? Sejak kapan sih, ko nggak ngundang-ngundang kita, kan lumayan kebagian ngem-si??!) Mereka asik melihat pantai lagoon pari yang masih 'perawan' mirip pantai kuta era 80 an (kata si abah yang pernah ke pantai kuta di zaman itu sebelum setenar sekarang, diperkuat dengan cerita orangtua angkat gue yang di Denpasar bernama H. Sunar yang asli lahir dan besar di Bali). Mereka pada berfoto ria dengan gaya entah seperti apa soalnya gue ga ikutan, dan sampe sekarang juga mereka belum nge share hasil foto yang disitu (mungkin sibuk kali yee?? Atau mungkin nunggu gue ngemis-ngemis sambil bawa tongkat dengan pakaian lusuh compang-camping penuh tambalan?!, baru deh mereka ngasih he he he).


Ini salah satu yang di share pas di pantai Lagoon Pari
Mereka lagi mbidik nelayan yang jauh disana dengan "Bazooka" nya


Setelah selesai sholat asar di saung, aku lihat mereka sudah jauh meninggalkanku, kecuali si Lulu yang setia menungguku (jangan ge'er yah! Si Lulu nungguin karena dia sibuk ngeladenin komplenan betisnya yang ketutup celana panjang he he he, terlepas dari itu semua, si Lulu memang baik dan setiakawan, nggak seperti nama panjangnya : "Lulu Guegue Lumati Gue Tahlil" biar simple dipanggil LULU wkwkwkwk...), sementara si cantik Tata (yang mempunyai nama pajang Tata Marita Anak Mamah Tayang) dan Bobby berjalan 50 meter didepan kami mengejar rombongan pemegang "bazooka" nun jauh disana. Rombongan "bazooka" memang aku lihat buru-buru dari tadi karena ngejar sunset di tanjung layar yang masih jauh sekitar 1 km dari sini (pantai Lagoon Pari) dengan jalan yang terjal dan berliku.
Batu karang adalah ciri khas pantai Lagoon Pari

Aku pun jalan dengan santainya ditemani Lulu menyusuri pantai untuk mengejar rombongan anak-anak yang jauh di depan sambil sesekali mendokumentasikan suasana yang masih asri. Ada sesatu yang aneh dan sangat kontras sekaligus menjadi ciri khas desa ini, yaitu para pengembala kerbau yang mengumbar kerbau gembalaannya di pesisir pantai, fenomena yang baru pertama kalinya aku lihat seumur hidup. Umumnya kerbau yang aku lihat itu bermain di sawah dan ladang daerah pegunungan, minimal daerah datar, yang ini malah di laut, mana mau kerbau mandi pake air asin? Bisa jadi asin tuuh telor nya si kebo, si bebek jadi punya saingan deeh, bisa nggak laku tuh telor asin karya nya, bisa-bisa si bebek manggil ahli markting buat analisa pasar ngelawan serbuan pasar telor asin karya si kebo (panjang banget ngebahasnya.... Kisah tai kebonya kapaaaaaannnn?? Sudah nggak sabar nih pengen tau ceritanya....???)

Berhubung ada yang ngomel-ngomel, kita sudahin saja kisah pantai Lagoon Pari nya, penjelasannya bisa lihat di hasil jepretan anak-anak petualang dibawah ini.

Seperti yang sudah-sudah, ini kisah selanjutnya :
1. Tai Kebo
2. Pantai Tanjung Layar
3. Karaoke, BBQ, dan Gempa Bumi
4. Surfing di Pantai Pasir Putih - Sawarna


Visualisasi nya niih :
 Sebelum tai nya, kebo nya dulu dikasih...
Pantai Tanjung Layar
 Karaoke dan BBQ di Home Stay Sawarna Beach
 
 Pantai Pasir Putih - Sawarna
 
 Pantai Pasir Putih - Sawarna

 Pantai Pasir Putih - Sawarna
 Surfing di Pantai Pasir Putih - Sawarna
 Surfing lagii....

 Ekspresi anak Petualang di Pantai Pasir Putih - Sawarna




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tulis komentar, saran, dan pandangan anda dibawah sini :