Jumat, 22 November 2013

Cerita Sahabat Petualang Saat Berkencan Dengan Terios di #Terios7Wonders



Pernah dengar cerita petualangan 7 sahabat Terios menjelajahi 7 destinasi wisata nusantara? Kalo mau tahu, mereka itu teman-teman saya yang aktif menjadi citizen journalism dan rajin sekali tebar pesona memamerkan jejak langkahnya menjelajah destinasi wisata. Ketajaman goresan penanya mampu menghipnotis tempat wisata yang tadinya “jomblo” dan kesepian menjadi tempat “bercumbu” nya wisatawan dengan alam, sehingga tercipta destinasi wisata yang menjadi hiasan taman surga wisata nusantara.

Petualangan 14 hari dengan Terios berlangsung dari tanggal 1 hingga 14 Oktober 2013 lalu, dengan menjelajah 7 destinasi wisata yang terkenal dengan sebutan “Hidden Paradise”, dimulai dari pantai Sawarna di ujung barat pulau Jawa hingga pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Ingin tahu perjalanan sahabat petualang Daihatsu Terios di ajang #Terios7Wonders ? Ini dia beberapa cerita seru mereka.

Destinasi#01 – Sawarna
(Maulanaharris / Sahabat Petualang #Terios7Wonders)
http://maulanaharris.blogdetik.com

Rombongan #Terios7wonders yang akan menjelajah dengan Daihatsu Terios berangkat dari Bellanova Sentul – Jakarta pkl. 08:30 wib dengan beranggotakan 24 orang (7 blogger, 7 media,7 driver, dan 3 orang tim pembantu), mereka menumpang 7 unit Daihatsu Terios terbaru yang fiturnya syarat dengan aroma petualang.

Setahu saya, rute menuju Sawarna itu melewati Bogor, sukabumi, di lanjut ke Bayah. Atau kalau  mau dari arah barat bisa lewat Tangerang, Rangkasbitung, dan tembus ke Bayah. Jakarta Sukabumi bisa ditempuh dengan 4,5 jam perjalanan, itupun dilakukan di malam hari dimana lalu lintas sepi. Tapi saya sedikit terkejut dengan rute yang diambil oleh tim petualang 7 Wonders. Mereka melewati jalur yang tak lazim, medan curam dan berliku mereka pilih. Dari Bogor mereka membanting setir ke arah Cipaku hingga tembus Cihideung terus hingga Parungkuda, Sukabumi. Dari situ bukanya mereka lanjut ke Jl. Raya Sukabumi yang rata dan sedikit naik turun, tapi rombongan petualang memilih lewat jalur off road Cikidang yang melintasi sungai Citarik. Tak berselang lama rombongan tiba di Pelabuhan Ratu. Yang lebih kaget lagi waktu tempuh mereka sangat singkat, hanya 3,5 jam!. Salut deh buat Daihatu Terios!!. *tepuktangan

Dari Sukabumi mereka melanjutkan perjalanan menuju Sawarna. Jalur Sukabumi – Sawarna yang notabene saya tempuh dalam waktu 4 jam, mereka hanya perlu waktu 3  jam SAJA! ck ck ck ck…. Padahal rutenya ekstrem dengan tanjakan miring 45 derajat dan jalur beloknya hampir 180 derajat. Salut deh buat para sahabat petualang Daihatsu Terios. Total waktu dari Jakarta ke Sawarna sejauh 180 km yang mereka butuhkan hanya 6 jam saja.   *tepuktanganlagi

Setibanya di Sawarna, saya sih berharap mendapat oleh-oleh foto mobil Terios sedang parkir berjejer dengan background Tanjung Layar, tapi pas liat postingan salah satu sahabat detik blogger yang menjadi peserta terpilih, mas Harris Maulana, foto itu tidak ada… #yaah… kecewa tingkat kecamatan

Tapi nggak papa siih, foto ini sepertinya bisa mengobati harapan saya yang hilang tadi :

Foto : maulanaharris.blogdetik.com
Perasaan sahabat petualang #Terios7Wonder tidak berbeda jauh dengan apa yang saya rasakan saat berkunjung ke Sawarna. Deburan ombak yang menerjang karang, pasir putih yang terhampar dengan kilauan sinar matahari, dua buah batu karang yang menjulang tinggi mirip menara petronas (*lebay kelas kakap), dan suasana pedesaan yang begitu asri langsung menghipnotis mereka seolah berada di peradaban yang asing. Dan yang paling berkesan serta tak terlupakan adalah menikmati suasana senja di pantai Tanjung Layar. Sungguh kebesaran Tuhan sangat bisa dirasakan disana, sepertinya Tuhan menyisakan sekian persen aroma surga untuk disematkan di Sawarna saat senja.


Deastinasi#02 – Merapi - Jogjakarta
(Bambang / Sahabat Petualang #Terios7Wonders)
http://simplyindonesia.wordpress.com

Jangan membayangkan desa Kinahrejo yang ada di lereng gunung Merapi  itu yaa…, jika mengintip perjalanan sahabat petualang #Terios7Wonders yang satu ini (mas Bambang), untuk tiba di kota Jogjakarta saja mereka harus melalui perjalanan yang panjang dan penuh cerita seru. Dari Sawarna, sahabat petualang #Terios7Wonders harus bangun pagi buta (02/10/2013) untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi kedua, Jogjakarta. Mereka meninggalkan Sawarna pkl. 6 pagi, melintasi jalur perbukitan kecamatan Bayah, betapa suasana dingin sangat menusuk pagi itu. Sebelum tiba di Sukabumi,  tak lupa mereka singgah di pantai indah berkarang yang penuh legenda mistis bernama Pantai Karanghawu.

Rehat di Karanghawu bisa menghilangkan rasa penat, saatnya melanjutkan perjalanan. Setelah 82 km meninggalkan Karanghawu dengan jalur offroad yang menantang membuat kuda besi Terios “kehausan”. Rombongan pun mengisi BBM di SPBU 34-41302 (#pakethemat01; 33.2 liter Rp. 215,816). Untuk menuju destinasi kedua, jalur yang akan ditempuh adalah via Pasir Hayam; Ciranjang; Citatih; hingga tembus ke Jl. Raya Simpang Padalarang, Team Hidden Paradise memilih istirahat di dekat terminal Nagrek. Dari situ perjalanan ke Jogja masih 386 km lagi.

Jalur tempuh selanjutnya adalah Garut; Tasikmalaya; Banjar; Banyumas; Kutoarjo; Magelang; Jogjakarta. Dari 386 km jalur yang ditempuh, “kuda besi” Terios hanya butuh minum dua kali, pertama di SPBU 34-44101, dan kedua di SPBU di Jl. Diponegoro -Kutoarjo sebanyak  41.9 liter (Rp. 272,415,-). Jika dihitung-hitung, konsumsi si Petualang Terios mengkonsumsi bahan bakar dengan rasio 1 : 9.9km (1liter bahan bakar untuk perjalanan 9,9km). Sementara untuk makan malam, rombongan memilih rehat di Restoran Taman Pringsewu – Banyumas.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 19 jam dari Sawarna, , akhirnya tim Terios 7 Wonders sampai juga di Amaris Hotel (by Santika) di Jalan Diponegoro No. 84 Jogjakarta, tepatnya pkl. 01.15 dini hari #horay…
Ini bukti dokumentasi mereka begitu tiba di Jogjakarta :
 
Foto : Maulana Harris

Setibanya di Jogjakarta, beberapa kegiatan pentingpun dilakukan oleh para petualang #Terios7Wonders, antara lain :

#01- CSR Daihatsu dan Pagelaran Tari
Corporate Social Responsibility (CSR) berlangsung di kecamatan Cangkringan Kab. Sleman. Acara yang sedianya dihadiri oleh gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X itu berjalan dengan lancar meski sang gubernur berhalangan hadir. Nampak hadir dalam acara tersebut antara lain perwakilan management Daihatsu, Pak Camat, pak Bupati, dan beberapa utusan gubernur. Acara CSR kali ini berupa penanaman 10.000 pohon untuk mempercepat proses pemulihan kawasan akibat dampak erupsi merapi beberapa tahun silam, selain itu CSR merupakan bentuk kepedulian Daihatsu kepada lingkungan. Sementara itu untuk menyambut team #Terios7Wonders, masyarakat Kinahrejo mempersembahkan  tarian tradisional khas Merapi, yaitu tari Jathilan. Tarian ini dahulu dipentaskan untuk menolak bala’, namun seiring perkembangan zaman, tarian ini digunakan untuk menyambut para tamu yang datang ke wilayah lereng Merapi.

#02 - Mengunjungi Desa Kinah Rejo
Foto : simplyindonesia.wordpress.com
Desa Kinah Rejo sangat populer saat gunung Merapi meletus. Untuk menuju ke desa ini, team petualang Daihatsu harus melewati medan yang cukup menantang. Jalan bebatuan naik turun dan curam berhasil ditaklukkan oleh si petualang sejati #
Terios.




Deastinasi#03 – Ranupani – Semeru
(Lucy / Sahabat Petualang #Terios7Wonders)
http://lucianancy.com

Road trip selalu identik dengan menginap di hotel dan makan dengan sajian menu eksklusif, tapi bagi tim #Terios7Wonders, Ranupani sangat khas dan memaksa tim untuk berbaur dengan penduduk lokal. Desa yang terletak di ketinggian 2200 mdpl ini berada dikaki gunung semeru, disanalah suku Tengger menetap. Pakaian khas penduduk Ranupani berupa kain sarung yang selalu membalut badan dan kupluk di kepala. Maklum meski siang hari udara disini panas oleh terik matahari, tapi begitu malam tiba udara bisa berubah dingin dan sangat menusuk kulit. Untuk menuju tempat ini, dari Jogjakarta rombongan harus melintasi kota Malang via Lumajang dan setelah melewati jalan berliku, kuda besi petualang “Terios” sampai juga di gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dari gerbang taman nasional, perjalanan ke Ranupani masih memakan waktu dua jam, dikarenakan rombongan harus melintas memutar sebab akses satu satunya menuju Ranupani, yaitu Tumpang, sedang direnovasi.

Penat dan rasa capek di perjalanan yang berliku seakan sirna oleh keramahan penduduk suku Tengger, mereka mempersilakan rumahnya untuk dijadikan tempat menginap. Satu hal yang khas dari rumah penduduk Ranupani adalah dapur mereka yang menyatu dengan ruang tamu. Sementara itu tungku api dibiarkan berada ditengah ruangan. Tujuan menempatkan tungku api di dalam ruangan tak lain untuk mengakrabkan para tamu dan berfungsi juga untuk menghangatkan mereka.

Tak lengkap rasanya jika mendaki gunung tanpa mendirikan tenda untuk bermalam. Rombongan memutuskan untuk bermalam di pinggiran danau Ranupani dan menginap di hotel Ranupani (hotel berbintang banyak alias “nenda” he he he). Bermalam di Ranupani meninggalkan kenangan yang tak terlupakan, pertarungan dengan udara dingin terbayar dengan keindahan malam sejuta bintang dan sunrise Ranupani.

Ini dia dokumentasi team #Terios7Wonders yang bermalam di Ranupani :

 
Foto : Lucianancy.com
Foto : Harris Maulana
Foto : Harris Maulana



Deastinasi#04 – Baluran
(Giri / Sahabat Petualang #Terios7Wonders)
http://Girisatrio.wordpress.com

Keindahan surga tersembunyi di kawasan Ranu Pani tidak cukup di eksplore dalam hitungan hari. Belum lagi para petualang puas menikmati suasana di lereng semeru, aba-aba dari ketua rombongan mengharuskan mereka untuk meninggalkan serpihan surga yg ada di gunung semeru itu. Tepat pkl 15:00 (06/10/13) rombongan
#Terios7Wonders meninggalkan Ranu Pani untuk menuju serpihan surga di ujung timur pulau Jawa, yakni Baluran. Rute yang mereka pilih adalah Lumajang; Jember; Bondowoso; Situbondo; dilanjut ke destinasi utama, Baluran.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 7,5 jam, akhirnya rombongan para petualang tiba di gerbang Taman Nasional Baluran. Tak nampak sesuatu yang spesial saat melintasi gerbang Taman Nasiona Baluran, hanya ada hamparan padang rumput yang mengering sejauh beberapa mil, tapi koq kenapa tim Terios memasukkan Baluran di list Hidden Paradise nya yah??

Tunggu dulu!, namanya juga surga tersembunyi, pasti tempatnya jarang sekali terjamah oleh manusia. Jawaban atas penasaran team
#Terios7Wonders didapat setelah rombongan menembus padang savana selama lebih dari satu jam. Padang rumput & savana yang mereka lewati belumlah seberapa jika dibanding dengan luas Taman Nasional Baluran. Total luas TN Baluran mencapai 25.000 hektare (WOW!). Pantas, untuk memasukinya saja dari gerbang menuju pos pertama membutuhkan waktu satu jam perjalanan naik mobil, wajar jika jarang orang yang kesini.
Foto : Harris Maulana
Baluran adalah Taman Nasional yang melindungi satwa dan fauna, meliputi satwa darat & laut, dimana satwa dibiarkan hidup di alam liar. Jangan membandingkan Baluran dengan Taman Safari yaah, karena beda banget. Kalo di Taman Safari para satwa diberi makan & akses mereka dibatasi, tapi kalo di TN Baluran mereka bebas berkeliaran layaknya kehidupan alam liar mirip di film Tarzan. Menjelajah TN Baluran berasa kita berada di hutan Afrika, itulah sebabnya orang menyebut TN Baluran sebagai Afrika nya Jawa. Dari 25ribu hektare luasnya, Baluran dibagi dalam beberapa zona :
- Zona inti 12.000 h a
- Zona rimba 5.537ha, terdiri dari air 1.063ha & darat 4.574ha.
- Zona pemanfaatan intensif 800ha
- Zona pemanfaatan khusus 5.780ha
- Zona rehabilitasi 783ha

Terdapat kurang lebih 444 fauna dan 26 mamalia yang menghuni TN Baluran. Karena mareka satwa liar, maka sangat sulit bagi kita untuk berinteraksi langsung. Untuk bisa melihat mereka, pengelola TN Baluran membangun pos jaga yg berguna untuk mengamati & melestarikan ke orisinilan habitat mereka, dari pos inilah kita bisa melihat secara langsung kehidupan satwa liar.
  • Pos Bekol & semiang : Satwa yang biasa menampaakkan diri di pos ini antara lain ayam hutan, rusa, kijang, banteng, kerbau liar dan burung
  •  Pos Batangan : Di pos ini sering dijumpai ayam merak yang memamerkan bulu indahnya, terutama jika musim kawin tiba.
  • Pos Bama, Balanan, & Bilik : Pos ini berada di tepi pantai Papuma, disini kita bisa menikmati wisata bahari seperti memancing, berenang, snorkling, & kegiatan menyelam.
  • Pos Manting & Air Kancip : Di pos ini terdapat sumber mata air abadi, konon mata air disini tidak pernah surut sepanjang masa, meski dimusim kemarau sekalipun. Satwa yang sering muncul disini adalah macan tutul
  • Pos Popongan, Sejile, Sirontoh, & Kalitopo : Disini adalah tempat vaforitnya Ikan hias dan jenis vivipar migran (burung musiman).
  • Pos Curah Tangis : Di pos ini suasana petualangan begitu terasa, disekelilingnya terdapat tebing yang curam. Lokasi ini cocok untuk menantang petualang yang hobi panjat tebing, tinggi tebing di lokasi ini kisaran 10-30 meter dengan kemiringan hingga 85 derajat.
Menikmati alam liar Baluran tidak hanya di siang hari saja, malam haripun kita bisa ber "safari" dan berkenalan dengan satwa malam asli habitat sini, dengan pengawalan petugas tentunya. Suasana Baluran sangat mirip dengan Afrika terutama saat pagi hari, dimana matahari baru terbit dan mengintip di sela pepohonan hutan rimba Baluran, apalagi dengan background Argopuro dan Gunung Baluran yang tingginya mencapai 1.247 mdpl. Panoramanya akan menjadi kenangan tersendiri jika kita bisa membidiknya dengan kamera kesayangan.

Foto : Harris Maulana
Lelah bermain dengan landscape Baluran, para petualang
#Terios7Wonders sebenarnya masih ingin mengeksplore Baluran dari sisi lainnya, tapi sayang, padatnya jadwal membuat rombongan harus meninggalkan Baluran untuk menuju destinasi selanjutnya, yaitu Desa Rambitan-Lombok. Tepat pkl 09:40 (07/10/13) rombongan #Terios7Wonders meninggalkan Taman Nasional Baluran menuju dermaga Ketapang, dilanjut menyeberng ke pulau dewata. Hanya butuh waktu 1,5 jam saja si "kuda besi" Terios sudah hopping island ke Bali. Team petualang kemudian memilih istirahat di Hotel Santika - Kuta saat senja tiba.
  
Deastinasi#05 – Desa Sade Rambitan, Lombok
(Puput Aryanto / Sahabat Petualang #Terios7Wonders)
http://backpackology.me

Desa Sade Rambitan berjarak  30 an km dari kota mataram, jika dari bandara dibutuhkan waktu tempuh 20 menit untuk sampai di desa ini. Sade Rambitan merupakan tempat tinggal asli suku sasak. Kebudayaan suku sasak di desa ini masih dipertahankan meski zaman modern terus mencoba untuk menggerusnya. Itulah salah satu sebab mengapa desa Sade Rambitan masuk dalam daftar hidden paradise nya
#Terios7Wonders. Gerbang desa Sade Rambitan berada disamping Jl. Raya Praya Kuta, Lombok Tengah.
Foto : Puput / backpackology.me
Salah satu kebudayaan Sasak dalam menyambut tamu asing adalah dengan menyuguhkan kesenian Gendang Belek & Tari Paresehan. Gendang belek adalah musik tradisional khas suku sasak, berupa gendang, gong, & bunyi bunyian lainnya, sementara tari Paresehan mirip adegan pertarungan dua orang dimana masing-masing membawa tongkat yang terbuat dari rotan sebagai senjata & sebuah perisai yang terbuat dari kulit sapi. Pertunjukan tari akan selesai setelah salah satu penari berhasil ditaklukkan oleh lawannya, dimana sesepuh desa bertindak sebagai wasit. Dalam membawakan kesenian gendang belek & tari Paresehan, semua peserta memakai pakaian adat suku sasak yang mirip pakaian adat bali, terdiri dari udeng (ikat kepala) baju khas lombok yg mirip baju koko, dan samping (kain bawahan yang mirip sarung) berwarna hitam. Semua kain bermotifkan tenunan khas Lombok.

Setelah pertunjukan Tari Paresehan, penyambutan tamu masih berlanjut dengan suguhan tarian yg gerakannya mirip tari Bali, hanya saja dibawakan oleh anak kecil laki-laki. Sebagai penutup adalah tarian Amek Tempengus.  Tarian ini mirip simbol keakraban. Siapapun yang menonton tarian ini dijamin akan terlihat sumringah karena gemas melihat raut si penari yang kocak. Raut wajahnya seperti pertunjukan ria jenaka dengan gerakan mulut monyong mirip tapir.

http://backpackology.com
Area desa Sade Rambitan hanya bisa menampung 150 rumah, dengan penduduk yang konstan 700an orang. Jika salah satu penduduknya bertambah karena perkawinan, maka penduduk lainnya akan keluar dari desa itu, demikian juga jika ada yang meninggal, maka kaum sasak diluar akan masuk menggantikan, sehingga jumlah penduduk desa ini selalu tetap. Perkawinan didesa ini diwajibkan satu suku, namun tidak ada larangan untuk menikah dengan suku luar, asal dengan mahar yang tinggi. Keunikan lain desa ini adalah bagian tembok rumah terbuat dari campuran kotoran kerbau. Begitu juga untuk mengepel lantai, penduduk Sade Rambitan selalu menggunakan kotoran kerbau, tapi anehnya lantai rumahnya tidak bau. Bangunan rumah di desa ini terbuat dari bambu dengan atap ijuk, suku sasak menyebutnya Bale.

Kehidupan kaum sasak asli Lombok sangat bersahaja dan penuh dengan makna filosofi. Mengunjungi desa ini seolah kita di ajarkan bagaimana menjalani kehidupan yang selalu harmonis dengan alam. Meski hanya beberapa jam saja berada di desa Sade Rambitan, namun kearifan lokal yang ada di desa ini sangat berkesan mendalam & masuk ke dalam jiwa raga. Wajar jika desa Sade Rambitan masuk di daftar Hidden Paradise nya
#Terios7Wonders.


Deastinasi#06 – Dompu, Sumbawa
(Wira Nurmansyah / Sahabat Petualang #Terios7Wonders)
http://wiranurmansyah.com

Setelah sempat singgah di desa Sade Rembitan-Lombok,. Dari Lombok Tengah (pkl. 08:00wib), tim petualang menuju pelabuhan Kahyangan untuk menyeberang ke Pototano Sumbawa. Tepat tengah hari tim sudah mendarat di bumi Sumbawa. Petualangan #Terios7Wonders masih berlanjut ke hidden paradise nya Sumbawa, yaitu Kota Dompu. 

Dompu adalah kota kecil paling ujung di sumbawa, jarak dari Sumbawa sekitar 200km. Sepanjang perjalanan dari Sumbawa ke Dompu akan disuguhi pemandangan di sebela kiri laut & sebelah kanan perbukitan yang kontras dengan sinar matahari. Akses jalan di Sumbawa ke Dompu sangat mengasyikkan, meski bukan di jalan tol, tapi jalanan amat sepi & lancar tanpa macet, ditambah jalan aspalnya yang mak nyuss. Tepat pkl. 22:wib tim #Terios7Wonders tiba di hotel Aman Gati - Dompu.
http://www.wiranurmansyah.com
Meskipun kota kecil, tapi bisa dibilang tidak ke Sumbawa jika belum singgah ke Dompu. Misi petualangan #Terios7Wonders pun memasukkan kota kecil ini menjadi salah satu Hidden Paradise nya. Hmmm... Kenapa yaah?? Ternyata tak banyak yang tahu kalo asal susu kuda liar Sumbawa itu adalah dari Dompu, di kota inilah kuda-kuda itu dikembangbiakkan & diperah susu nya, hingga sampai ke kita & kita sebut susu itu sebagai susu kuda liar Sumbawa. Meski namanaya susu kuda liar, tapi sebenarnya kuda kuda itu tidaklah se-liar yang kita bayangkan, hanya cara beternaknya saja yang tidak menggunakan kandang alias membiarkan kuda di alam bebas (liar). 
http://www.wiranurmansyah.com
Para petualang #Terios mengunjungi peternakan Kuda Sumbawa di desa Palama - Dompu, mereka melihat proses produksi susu kuda liar khas sumbawa yang terkenal untuk vitalitas itu. Pada dasarnya susu kuda liar sama dengan susu sapi, hanya saja lebih encer & gurih, serta kandungan antibakteri nya lebih banyak, selain itu penyimpanan susu kuda liar bisa tahan sampai 6 bulan tanpa masuk kulkas (WOW!). Harga susu kuda liar di tempat asalnya sangat bervariatif, antara 20-30 ribu per botol ukuran 600ml. Belum ada standar harga yang dibuat oleh lembaga khusus.

Sumbawa bukanlah titik akhir perjalanan
#Terios7Wonders, masih ada destinasi terakhir yang harus di kunjungi, yaitu Pulau Komodo. Untuk menuju kesana, tim petualang harus menyeberang dari Labuan Bajo. Karena keterbatasan akses transportasi laut, maka kuda besi Terios terpaksa berpisah, hanya satu kuda saja yang bisa menginjakkan kaki karetnya ke tanah Komodo, sementara kuda besi lainnya ditinggal bersama kuda kuda liarnya Sumbawa.




Deastinasi#07 – Pulau Komodo
( Mumun/ Sahabat Petualang #Terios7Wonders)
http://indohoy.com

Seperti halnya di film film petualangan, di akhir cerita selalu di akhiri dengan tantangan terberat, lalu happy ending. Apa yang di alami oleh para penjelajah #Terios7Wondersjuga tak jauh beda. Saat destinasi terakhir akan ditaklukkan, kondisi memaksa mereka untuk turun dari tunggangan mereka dan harus rela mengganti moda transportasi. Ya! Dikarenakan keterbatasan akses transportasi ke pulau komodo, dengan sangat terpaksa hanya satu kuda besi Terios saja yang bisa turut serta mendampingi mereka ke pulau Komodo.

Untuk menuju pulau Komodo, dari pelabuan Labuhan Bajo team dipecah menjadi 3, Pertama satu unit mobil
Terios dan"pawang" nya naik kapal cargo, team kedua adalah petualang wanita & beberapa kru wartawan naik kapal pinisi blue Dragon, sementara sisanya naik kapal pinisi Playaran. Ketiganya akan bertemu di pulau Komodo keesokan harinya.

Kapal pinisi adalah kapal bermesin yang sebagian tubuhnya terbuat dari kayu, kapal ini sangat klasik dengan bentuk unik dan menjadi ciri khas kaum nelayan bugis. Berlayar dengan pinisi mempunyai sensasi tersendiri, kapal ini hanya menyediakan 6 kamar yg semuanya eksklusif. Fasilitasnya lengkap, dari mulai tukang masak, kebersihan kamar, kebutuhan air dll, semua tersedia. Para petualang
#Terios7Wonders dimanjakan oleh pelayanan kapal ini. Sebelum ke pulau komodo, mereka diajak berkeliling mengitari perairan sekitar pulau Komodo.
http://indohoy.com
Destinasi pertama adalah pulau bidadari. Birunya laut menggoda para petualang untuk melakukan aktifitas diving dan snorkling. Alam bawah laut nya sangat indah, soft coral dengan beragam jenis ikan menghiasi taman bawah laut kepulauan sekitar komodo. Bahkan jika kita berada di tepi pantai, pemandangan bawah laut bisa kita lihat tanpa harus berenang #excited ;). Lelah mengeksplore alam bawa laut, tim #Terios7Wonders memutuskan untuk bermalam di pulau Rinca, menghabiskan malam di kapal eksklusif ber jenis pinisi, dan dimanjakan dengan pelayanannya.

Pagi harinya, tim petualang mengunjungi pantai khas pulau komodo, yaitu pantai pink. Dari kejauhan gugusan pantai ini sangat indah, gradasi warna antara pasir pantai yang pink, hijaunya pepohonan, birunya langit dan laut menjadi pemandangan indah. Sempat terbesit pertanyaan kenapa pasir pantai berwarna pink, setelah diamati dari dekat, ternyata warna pink itu berasal dari serpihan batu coral yang terbawa oleh ombak ke tepi pantai, karena jumlahnya banyak, maka warna pink mendominasi & menutup hampir seluruh permukaan pasir pantai.
Setelah puas bermain di pantai pink, saatnya menuju Loh buaya, tempat habitat si kadal raksasa, Komodo. Meski tempatnya diatas bukit, dan tanpa menggunakan kuda besi Terios, tapi semangat mereka mampu mengantarkannya menuju destinasi terakhir, yaitu Taman Nasional Komodo (melihat komodo secara langsung tentunya). Begitu melihat langsung hewan purba itu, perasaan lega dan bahagia begitu terasa, karena mereka telah berhasil menyelesaikan tantangan petualangan selama 14 hari dari #Terios menjelajahi 7 surga tersembunyi yang ada di indonesia.


Menyimak perjalanan sahabat petualang #Terios7Wonders menjelajah 7 surga tersembunyi Indonesia membuat hati ini bergemuruh dan rasanya ingin membuktikan keindahan  mahakarya Tuhan di bumi pertiwi. Selamat buat teman-teman blogger yang sudah mendapatkan kesempatan ini, semoga saya bisa menyusul di event berikutnya… #mupeng :D



Sumber :

http://www.daihatsu.co.id/terios7wonders 
http://www.daihatsu.co.id/products/highlight/terios
http://indohoy.com
http://lucianancy.com
http://www.wiranurmansyah.com
http://simplyindonesia.wordpress.com
http://backpackology.me
http://maulanaharris.blogdetik.com